Di tengah krisis ekonomi global yang kemudian berdampak pada melonjaknya harga bahan bakar, Kawasaki melanjutkan ambisinya dalam menghadirkan bahan bakar alternatif untuk sepeda motor mereka. Saat ini kawasaki sedang meriset hidrogen sebagai bahan bakar kendaraan mereka. Upaya ini menjadi salah satu langkah penting dalam mencari alternatif selain bahan bakar fosil dan listrik. Teknologi hidrogen cair adalah sistem bahan bakar alternatif dengan kepadatan energi lebih tinggi dibanding hidrogen gas, sehingga berpotensi meningkatkan efisiensi dan jarak tempuh motor.
Namun, pengembangan tersebut tidak berjalan mulus karena menghadapi tantangan besar, terutama pada ukuran tangki bahan bakar. Secara teori, hidrogen memiliki keunggulan dari sisi energi. Jika dihitung berdasarkan massa, hidrogen mampu menghasilkan sekitar 120 megajoule per kilogram. Angka ini tiga kali lebih tinggi dibandingkan bensin. Meski demikian, masalah muncul saat energi dihitung berdasarkan volume. Bahkan dalam kondisi terkompresi hingga 700 bar, hidrogen hanya memiliki sekitar 5,6 megajoule per liter. Sebagai perbandingan, bensin mampu mencapai 32 megajoule per liter.
Perbedaan ini membuat kebutuhan ruang penyimpanan hidrogen menjadi jauh lebih besar. Untuk menyamai energi dari tangki bensin 4 galon, sepeda motor hidrogen membutuhkan kapasitas sekitar 24 galon. Artinya, ukuran tangki bisa mencapai enam kali lipat lebih besar. Bentuk tangki pun tidak fleksibel karena harus dibuat silinder atau bola agar mampu menahan tekanan tinggi. Hal ini menyulitkan proses desain motor agar tetap proporsional dan ergonomis. Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa prototipe motor hidrogen supercharged milik Kawasaki memiliki dimensi besar. Bahkan dengan ukuran tersebut, jarak tempuhnya masih dianggap belum ideal.
Sebagai solusi, Kawasaki mulai melirik penggunaan hidrogen cair. Teknologi ini menawarkan kepadatan energi lebih tinggi dibandingkan hidrogen terkompresi. Dalam bentuk cair, hidrogen memiliki energi sekitar 8,5 megajoule per liter. Walau masih di bawah bensin, angka ini jauh lebih baik dibandingkan versi gas bertekanan tinggi.
Penggunaan hidrogen cair juga mengurangi kebutuhan tekanan ekstrem dalam tangki. Namun, tantangan baru muncul dalam hal penyimpanan suhu. Hidrogen harus dijaga pada temperatur sangat rendah, yakni sekitar -423°F atau setara -253°C agar tetap berada dalam bentuk cair. Oleh karena itu, tangki harus dilengkapi sistem insulasi khusus. Bentuknya tetap cenderung bulat atau oval untuk meminimalkan luas permukaan serta menjaga suhu tetap stabil.
Secara konsep, penggunaan hidrogen pada mesin pembakaran memiliki daya tarik besar. Emisi yang dihasilkan sangat rendah, dengan gas buang utama berupa uap air. Hal ini menjadikannya salah satu solusi potensial untuk masa depan otomotif ramah lingkungan.
Namun untuk saat ini, teknologi tersebut masih menghadapi berbagai keterbatasan, khususnya dalam penerapan pada sepeda motor. Faktor efisiensi, ukuran komponen, serta daya tahan penyimpanan menjadi hambatan utama. Dengan kondisi tersebut, hidrogen cair masih membutuhkan waktu sebelum benar-benar bisa menjadi alternatif praktis bagi bensin maupun kendaraan listrik.
Image credit : ridermagazine.com