Para newbie yang baru kelar modif motor trail mereka jadi supemoto pasti pernah ngalamin nih situasi saat motor mereka terasa berat saat digunakan. Kecepatan baru menyentuh 60km/jam tapi mesin udah meraung minta dioper gigi, padahal sudah masuk gigi paling tinggi.Hhal ini paling sering terjadi karena saat mengganti kaki-kaki motor trail menjadi supermoto, tidak melakukan penyesuaian pada final gear ratio motor mereka.
Bukan rahasaia umum memang jika banyak yang terlalu fokus pada tampilan velg dan ban lebar semata, saat melakukan modifikasi supermoto. Biasanya nih pasti lupa kalau perubahan diameter roda ngaruh banget ke performa mesin. Faktanya, ban trail standar (Ring 18/21) memiliki keliling lingkaran yang lebih gede banget dibanding ban aspal (Ring 17). Akibatnya, rasio putaran mesin menjadi kacau balau dan kalau masih mempertahankan gear bawaan pabrik. Efek buruknya tentu saja bensin jadi boros, mesin cepet panas, dan getaran stang bikin tangan kesemutan.
Buat Anda yang menggunakan supermoto secara harian tentu pengen dong kalo tunggangan Anda tetap handal saat digunakan menempuh kemacetan tapi memiliki tarikan panjang saat jalan lowong. Sebelum memutuskan belanja part, Anda harus paham dulu logikanya biar gak salah kaprah. Ketika menurunkan ukuran velg dari 18 inchi ke 17 inchi, secara otomatis diameter total roda akan mengecil. Dalam fisika sederhana, roda yang lebih kecil membutuhkan putaran (RPM) yang lebih banyak untuk menempuh jarak yang sama dibanding roda besar.
Kondisi inilah yang membuat rasio final gear standar motor trail (yang biasanya ringan buat nanjak) terasa “terlalu ringan” saat menyentuh aspal dengan ban kecil. Ibaratnya, seperti lari pake gigi 1 terus-terusan. Makanya, mesin bakal teriak kencang tapi lari motor cuma segitu-gitu aja. Selain itu, kondisi RPM tinggi yang konstan ini memaksa mesin menyedot bensin lebih banyak.
Lantas, apa solusinya? Caranya cukup sederhana tapi penting banget. Anda harus “memberatkan” rasio gear-nya. Prinsip dasar yang wajib kalian pegang adalah: Kalau mau nafas panjang dan top speed naik, Anda harus menurunkan angka rasio final gear. Anda bisa melakukan ini dengan mengecilkan ukuran gear belakang, atau sebaliknya, membesarkan ukuran gear depan.
Khusus buat pemakaian harian (daily use), yang gak nyari top speed gila-gilaan kayak motor balap. Anda butuh rasio di mana mesin bisa rileks di kecepatan 60-80 km/jam. Untungnya, rumus menghitung rasio final gear itu gampang banget. Anda cukup membagi jumlah mata gear belakang dengan jumlah mata gear depan. Semakin kecil angkanya, maka tarikannya akan semakin “berat” tapi nafas makin panjang (Top Speed naik). Sebaliknya, semakin besar angkanya, tarikan jadi “enteng” tapi nafas pendek (Akselerasi naik).
Ada dua settingan yang biasanya digunakan nih yaitu kombinasi 14-45 (Rasio 3.21) yang cocok digunakan untuk jalanan kota yang macet dan kombinasi 14-43 (Rasio 3.07) yang pas buat melahap jalanan lowong yang panjang.
Jika mesin motor Anda masih menggunakan standar pabrik., kami sarankan untuk menggunakan kombinas 14-45. Rasio 3.21 ini adalah titik paling aman. Anda gak bakal kehilangan torsi terlalu banyak buat nyalip angkot atau bus di dalam kota, tapi di sisi lain, mesin udah jauh lebih adem dibanding standar. Kelebihan utamanya terletak pada fleksibilitas. Saat macet-macetan, tangan gak bakal pegel main kopling. Kemudian, saat lari 80 km/jam, mesin juga gak teriak minta ampun. Singkatnya, ini adalah setup “Golden Standard” buat daily use.
Nah, kalau rute harian Anda didominasi jalan lurus panjang (misal jalur pantura atau bypass) dan jarang bertemu kemacetan, kombinasi 14-43 bisa jadi pilihan menarik. Dengan rasio 3.07, motor bakal terasa lebih mengalir. Sensasi berkendaranya mirip motor sport 150cc standar pabrikan. Meskipun demikian, ada harga yang harus kalian bayar. Tarikan awal bakal terasa agak berat. Kalau ketemu tanjakan curam atau butuh nyalip dadakan, kalian mungkin perlu turun gigi lebih sering dibanding setup 14-45. Setup ini cocok banget buat kalian yang hobi jalan jauh.
Memodifikasi gear set itu seni menyeimbangkan antara jambakan awal dan nafas akhir. Gak ada rumus pasti yang 100% bener buat semua orang, karena berat badan rider dan kondisi jalan tiap daerah pasti beda-beda. Nah jadi semua tergantung Anda lagi ya.
Image credit : suzukicycles.com