Salah satu komponen fast moving yang harus sering diperiksa kondisinya adalah busi. Fungsi utama busi pada motor adalah menghasilkan percikan api listrik, membakar campuran bahan bakar dan udara, serta membuang panas sisa pembakaran. Oleh sebab itu bila pada motor tidak ada busi, maka tentunya motor tidak akan dapat menyala karena ruang bakar tidak disuplai oleh percikan api. Sehingga tidak akan ada pembakaran yang menggerakan piston.
Busi motor standar berbahan nikel harus diganti setiap 6.000 hingga 8.000 km (atau sekitar 6–8 bulan pemakaian). Untuk busi jenis Iridium atau Platinum, masa pakainya lebih lama dan biasanya diganti setiap 30.000 hingga 50.000 km. Selalu periksa buku manual motor Anda untuk rekomendasi pabrikan yang lebih pasti.
Jika Anda menggunakan busi standar, menggantinya tepat waktu sangat penting untuk mencegah pembakaran tidak sempurna yang bisa membuat boros BBM dan merusak komponen mesin lainnya. Tanda-tanda lain busi harus segera diganti antara lain mesin sulit dinyalakan (terutama di pagi hari), tarikan motor terasa berat atau tersendat-sendat, dan suara mesin tidak stabil.
Jika Anda memutuskan untuk mengganti busi sendiri sudah tahu belum jika pemasanganya tidak hanya asal kencang saja lho. Pemasangan busi pada motor yang harus terukur dan tidak asal-asalan. Busi pada motor harus dipasang dengan baik dan benar. Tidak boleh longgar dan tidak boleh terlalu kencang. Bila terlalu longgar, maka dikhawatirkan akan menyebabkan kompresi berkurang dan hal terburuk adalah busi terlempar dari kepala silinder ketika tengah dipacu. Sebaliknya, bila terlalu kencang, maka hal yang bisa terjadi adalah bahwa kepala atau ulir busi patah dan tertinggal di kepala silinder. Bila sudah begini, ya terpaksa harus dibawa ke bengkel bubut untuk diakali.
Berapa sih torsi yang ideal dalam pengencangan busi? Memang tidak ada ukuran pasti karena torsi dari setiap busi itu berbeda-beda tergantung dari ukuran ulirnya. Misalnya saja untuk busi dengan ulir 18 mm dan 14 mm, maka pemasangannya setengah sampai dua pertiga putaran atau 180-240 derajat. Sedangkan busi dengan ulir 12 mm dan 10 mm, pemutarannya adalah setengah putaran atau 180 derajat. Serta busi dengan ulir 8 mm, maka putarannya adalah sepetiga putaran.
Patokaan di atas berlaku untuk busi motor baru, namun jika businya telah di pakai, maka putaran pengencangan busi diambil setengah dari patokan di atas. Meski acuan di atas bukan patokan mutlak, namun ada baiknya dalam mengencangkan busi harus kita perhatikan lagi. Tidak boleh terlalu kencang dan juga tidak boleh terlalu kendor. Serta bila drat busi atau kepala silinder tidak sesuai, maka ada baiknya tidak dipaksakan karena dapat mengakibatkan keausan pada ulir kepala silinder. Nah semoga dengan penjelasan di atas Anda dapat mengganti busi Anda dengan benar ya.
Image credit : betterdirtbikeriding.com