Tidak sedikit memang komunitas motor trail di tanah air, tapi yang sudah bertahan lebih dari 30 tahun hanya segelintir saja. Dan salah satu yang paling legendaris adalah Trail Adventure Bandung Association atau yang biasa dikenal dengan nama TRABAS. Berdiri sejak 15 September 1995 di Bandung, Jawa Barat, TRABAS bukan hanya pelopor, tapi juga trend setter dalam dunia motor trail di Indonesia.
Lahir dari kebutuhan untuk mewadahi para pecinta motor trail yang kerap menaklukkan jalur-jalur liar pegunungan dan hutan, TRABAS muncul di saat belum banyak komunitas yang bergerak di ranah ini. Saat itu, geliat motor trail masih tergolong baru, bersamaan dengan hadirnya motor trail legendaris seperti Suzuki TS. Keberadaan TRABAS menjadi oase bagi mereka yang ingin menjadikan alam sebagai ruang petualangan sekaligus tempat belajar, dengan motor trail sebagai medium pemersatu.
Di tengah geliat motor trail yang kini menjamur di seluruh penjuru Tanah Air, komunitas terbesar dan tertua penghobi trail yang kini sudah menjadi organisasi ini, berdiri sebagai mercusuar. Dengan lebih dari 1.200 anggota aktif tersebar di berbagai daerah, organisasi ini membuktikan bahwa aktivitas menerabas hutan dan gunung bukan sekadar soal adrenalin, tapi juga soal edukasi, tanggung jawab sosial, dan komitmen terhadap kelestarian lingkungan.
Lebih dari sekadar urusan gas dan lumpur, TRABAS menanamkan nilai-nilai luhur kepada anggotanya. Prinsip eco riding menjadi pedoman penting, menekankan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan di setiap jejak ban yang ditinggalkan.
Trabas mewadahi mereka yang suka berpetualang ke dalam hutang menggunakan motor trail. Meskipun tak semua dan tak ada kewajiban mereka yang suka berpetualang mengeruk tanah basah dengan motor berban kotak-kotak, harus menjadi anggota Trabas.
"Anggota Trabas itu berbeda dengan yang asal-asalan main motor trail, karena kita punya tanggungjawab menjaga lingkungan. Kita punya aturan yang namanya eco riding, jadi berkendara memerhatikan lingkungan," tutur Hans Modja seperti yang dikutip dari detikcom.
Sejak awal, TRABAS tak pernah ingin hanya jadi klub motor. Mereka menciptakan ruang yang lebih luas: menyentuh sisi sosial dan kemanusiaan lewat aksi bakti sosial di jalur yang mereka lintasi, membangun mushola, berbagi dengan sesama, dan membentuk tim penyelamat yang anggotanya bahkan dilibatkan dalam misi nasional seperti evakuasi tsunami di Anyer dan longsor di Banten. Divisi-divisi seperti TRABAS Rescue, Baksos, Lingkungan Hidup, hingga TRABAS Racing Team adalah cerminan ekosistem sehat dan berkembang dari sebuah komunitas otomotif yang punya arah dan nilai.
Popularitas TRABAS melambung ketika mereka mulai menggelar event tahunan Trabas Merdeka sejak 2003. Tanpa hadiah, tanpa gimmick, hanya satu hal yang ditawarkan: petualangan otentik dengan jalur-jalur terbaik.
Sebagai pionir, TRABAS sadar betul akan tanggung jawabnya sebagai trend setter. Setiap citra negatif yang muncul terkait aktivitas trail di Tanah Air, tak jarang menyeret nama besar TRABAS. Namun, organisasi ini tak tinggal diam. Diklat menjadi momentum krusial untuk mengedukasi para pencinta motor trail, menanamkan kesadaran bahwa aktivitas ini bukan hanya soal kesenangan semata, melainkan juga tentang tata tertib dan komunikasi yang baik.
Sebagai trend setter di dunia trail adventure, Hans mengakui jika baik dan buruk yang ditimbulkan para pelaku trail di tanah air akan dikaitkan dengan organisasi tersebut.
"Trabas jelas kebawa-bawa kalau ada dampak negatif dari aktivitas trail. Cuma kita punya diklat, di situ jadi momen untuk mengedukasi pencinta motor trail. Kita tidak sembarangan hanya bermain motor saja. Setidaknya kita punya tanggungjawa edukasi itu. Soal tata tertib dan komunikasi," kata Hans.
Hal senada disampaikan Ketua Umum Trabas, Ricky Setiawan. Dia mengatakan jika Trabas tak cuma main motor saja. Namun juga memberi dampak positif bagi lingkungan dan sosial. "Karena trabas trend setter, pasti kejadian apapun yang negatif tentang motor trail Trabas pasti kena. Edukasi mesti digencarkan, padahal motor trail belum tentu trabas. Apalagi kita juga gencar melaksanakan kegiatan baksos di jalur yang kita lewati," jelas Ricky, seperti yang dikutip dari Detikcom.
Dalam menghadapi tantangan zaman, termasuk semakin sempitnya jalur off-road yang bisa diakses, TRABAS menggagas pendekatan baru: mengombinasikan motor trail dengan aktivitas sosial ke desa-desa terpencil, serta mulai menjajaki medan dengan motor dual purpose sebagai solusi adaptif. Ini adalah langkah visioner yang memperlihatkan TRABAS tak hanya bertahan, tapi terus tumbuh relevan.
Image credit : pikiranrakyat.com